Selasa, 02 Mei 2017

DASAR-DASAR MANAJEMEN






A.    Pengertian Manajemen
Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibakan bimbingan atau arahan suatu kelompok orang-orang ke arah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Manajemen adalah suatu kegiatan, pelaksanaannya adalah ‘managing’, pengelolaan, sedang pelaksananya disebut manajer atau pengelola.
Manajemen mempunyai tjuan tertentu dan tidak dapat diraba. Ia berusaha untuk mencapai hasil-hasil tertentu, yang biasanya diungkapkan dengan istilah-istilah ‘objectives’, atau hal-hal yang nyata. Usaha-usaha kelompok itu memberi sumbangannya kepada pencapaian-pencapaian khusus itu. Mungkin manajemen dapat digambarkan sebagai tidak nyata, karena ia tidak dapat dilihat, tetapi hanya terbukti oleh hasil-hasil yang ditimbulkannya ‘output’ atau hasil kerja yang memadai, kepuasan manusiawi dan hasil-hasil produksi serta jasa yang lebih baik.
B.     Fungsi-fungsi Manajemen
Aktivitas yang dibuat oleh manajer dibentuk oleh beberapa fungsi pokok, yang lantas membentuk suatu proses yang unik dalam manajemen. Perlu untuk diingat, bahwa manajemen adalah suatu bentuk kerja. Manajer, dalam melakukan pekerjaannya, harus melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu, yang dinamakan fungsi-fungsi manajemen, yaing terdiri dari:
1.      Planning
Menentukan tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama suatu masa yang akan datang dan apa yang harus diperbat agar dapat mencapai tujuan-tujuan itu.
2.      Organizing
Mengelompokkan dan menentukan berbagai kegiatan penting dan memberikan kekuasaan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan itu.
3.      Staffing
Menentukan keperluan-keperluansumber daya manusia, pengerahan, penyaringan, latihan dan pengembangan tenaga kerja.
4.      Motivating
Mengarahkan atau menyalurkan perilaku manusia kearah tujuan-tujuan.
5.      Controlling
Mengukur pelaksanaan dengan tujuan-tujuan, menentukan sebab-sebab penyimpangan-penyimpangan dan mengambil tindakan-tindakan korektif yang diperlukan.
C.    Manajer sebagai Pembuat Keputusan
Sebuah ciri umum seorang manajer adalah bahwa ia seoran pembuat keputusan. Seorang manajer harus memutuskan tujuan-tujuan yang hendak dikerjakan. Membuat keputusan merupakan kegiatan memilih suatu alternatif dari dua pilihan atau lebih, untuk menentukan suatu pendapat atau perjalanan suatu tindakan. Dalam pengambilan keputusan, seorang manajer berurusan dengan nilai-nilai yang akan datang, yang sampai tingkat tertentu masih belum diketahui. Selanjutnya, penyaringan suatu pilihan selalu didasarkan atas beberapa kriteria, seperti menghemat ongkos, menghemat waktu atau meningkatkan kualitas para manajer. Dalam pembuatan keputusan haruslah ada dua pilihan, misalnya jenis tertinggi atau terendah atau jenis ya atau tidak. Biasanya pilihan yang paling diingini adalah pilihan yang akan paling banyak menyumbang kepada tujuan yang dicari. Jika ada segi yang bertentangan, maka harus didamaikan dengan sesuatu cara yang memuaskan bagi si pembuat eputusan, karena membuat keputusan secara harfiah berarti ‘memutuskan’ atau sampai pada suatu kesimpulan.
D.    Merencanakan Sasaran dan Tujuan
Titik tolak proses manajemen adalah menentukan ‘objectives’ atau tujuan-tujuan organisasi. ‘objectives’ direncanakan untuk memberikan kepada suatu organisasi dan anggota-anggotanya arah dan maksud. Tujuan-tujuan haruslah didefinisikan dan diberitahukan sedemikian rupa sehingga tujuan-tujuan itu dapat digunakan sebagai suatu ukuran keberhasilan atau kegagalan.
“Objectives” atau tujuan-tujuan organisasi dipecah-pecah dalam tiga jenis yang berbeda-beda dalam kebanyakan organisasi. Jenis-jenis itu diantaranya:
1.      Yang bersifat organisasi
Tujuan ini bersangkutan dengan maksud-maksud, nilai-nilai yang diciptakandan arah umum organisasi itu. Jenis ini biasanya memiliki ruang lingkup yang luas, dan sebagai ciri khasnya tidak di definisikan secara ketat.
2.      Yang bersifat manajemen
Tujuan-tujuan bersifat manajemen lebih terperinci dan menyangkut faktor-faktor seperti kuantitas dan kualitas
3.      Yang bersifat perorangan
Tujuan-tujuan perseorangan diperorangkan bagi setiap orang perorangan, menggariskan apa yang sedang diusahakan perorangan itu untuk mencapai dan mendapatkannya.

Senin, 01 Mei 2017

MANAJEMEN PEMASARAN


A.    Pengertian
Pemasaran mengandung arti semua kegiatan manusia yang berlangsung dalam hubungannya dengan pasar. Jadi, deinisi pemasaran sendiri merupakan semua kegiatan manusia yang diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginannya melalui proses pertukaran. Proses pertukaran melibatkan kerja. Penjual harus mencari pembeli, menemukan dan memenuhi kebutuhan mereka, merancang produk yang tepat, menentukan harga yang tepat, menyimpan dan mengangkutnya, mempromosikan produk tersebut, menegosiasikan dan lain sebagainya. Semua kegiatan tersebut merupakan nilai dari pemasaran.
            Sedangkan manajemen pemasaran sendiri adalah analisis, perecanaan, penerapan, dan pengendaian terhadap program yang dirancang untuk menciptakan, membangun dan mempertahankan pertukaran dan hubungan yang menguntungan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.
B.     Landasan kegiatan pemasaran perusahaan
Terdapat lima konsep yang berkaitan satu sama lain dalam pemasaran dalam perusahaan, yaitu:
1.      Konsep produksi
Konsep ini mengemukakan baha pelanggan akan menyukai produk-produk yang tersedia secara luas dan harganya murah. Manajemen dalam organisasi yang berorientasi pada produksi mengerahkan segenap upaya untuk mencapai efisiensi produksi yang tinggi dan liputan distribusi yang luas
2.      Konsep produk
Konsep ini berpendapat bahwa para konsumen akan menyukai produk-produk yang memberikan kualitas, penampilan, dan ciri-ciri terbaik. Manajemen dalam organisasi yang berorientasi pada produk memusatkan upaya mereka untu membuat produk yang baik dan terus – menerus meningkatkan mutu prosuk.
3.      Konsep penjualan
Konsep ini berpendapat bahwa para konsumen, jika dibiarkan sendiri , bisanya tidak akan membeli produk-produk dari organisasi perusahaan tersebut. Oleh karna itu,organisasi harus melakukan kegiatan penjualan yang agresif dan usaha promosi gencar. Konsumen akan membeli produk bila dirangsang dengan promosi.
4.      Konsep pemasaran
Konsumen akan puas bila kebutuhan dan keinginan dipenuhi terus-menerus. Seorang teoritis manajemen terkemuka Peter Drucker mengatakan bahwa penjualan hanyalah puncak dari sebuah gunung es pemasaran. Konsep ini berpendapat bahwa kunci untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran dan penyerahan produk yang memuaskan secara lebih efektif dan efisien dibanding para pesaing.
Konsep pemasaran mulai dari sasaran pelanggan perusahaan dan kebutuhan serta keinginan mereka. Perusahaan memadukan dan mengkoordinasi semua kegiatan yang akan mempengaruhi kepuasan pelanggan, dan perusahaan akan mencapai labanya melalui upaya menciptakan dan mempertahankan kepuasan para pelanggan. Dengan kata lain, konsep pemasaran adalah suatu orientasi terhadap kebutuhan dan keinginan pelanggan, didukung oleh usaha pemasaran terpadu yang ditujukan untuk membangkitkan kepuasan pelanggan sebagai kunci untuk memenuhi tujuan – tujuan organisasi.
5.      Konsep pemasaran sosial
Konsumen akan puas bila perusahaan memperhatikan kesejahteraan konsumendan lingkungannya. Konsep ini berpegang pada anggapan bahwa tugas perusahaan adalah menentukan ebutuhan, keinginan dan minat dari pasar sasaran serta memberi kepuasan dengan cara ang lebih efisien dan efektif dari pada pesaing, sehingga dapat menjamin atau mendorong kesejahteraan konsumen dan masyrakat.
C.    Proses Manajemen Pemasaran
Proses manajemen pemasaran terdiri dari analisis peuang – peluang pasar, perilaku konsumen, segmentasi, pemilihan pasar sasaran, pengembangan strategi pasar, penempatan produk, perencanaan taktik, organisasi, pelaksanaan, dan pengendalian pemasaran.
Infomasi pemasaran diperoleh baik dari dalam maupun dari luar perusahaan. Informasi yang diperoleh dianalisis, kemudian digunakan untuk menyusun perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian. Sistem informasi pemasaran yang baik akan dapat memperbaiki kekurangan dan kelemahan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pen.gendalian.

PERILAKU ORGANISASI

      Dalam sekolah bisnis mayoritas lebih menekankan pada aspek-aspek teknis manajemen seperti ketrampilan dalam penguasaan ilmu-ilmu ekonomi, akuntansi, keuangan dan teknik-teknik kuantitatif.
     Topik perilaku manusia dan ketrampilan bermasyarakat mendapatkan perhatian yang minoritas. Padahal pemahaman tentang perilaku manusia dalam peran manajerial seperti menentukan efektivitas seorang manajer, seperti pelajaran yang dibutuhkan mengenai ketrampilan bermasyarakat sangat diperlukan dalam mengelola suatu organisasi. Berikut ini saya akan memberikan sedikit deskripsi sederhana tentang bagaimana itu Perilaku Organisas.



A. Pengertian Perilaku Organisasi
          Ada beberapa pengertian mengenai perilaku organisasi yang disampaikan oleh beberapa ahli, antara lain sebagai berikut:
1. Perilaku organisasi adalah studi yang menyangkut aspek-aspek tingkah laku dalam suatu organisasi atau suatu kelompok tertentu (Thoha 2011).
2. Perilaku Organisasi adalah sebuah bidang studi yang menyelidiki pengaruh yang dimiliki oleh individu, kelompok struktur terhadap perilaku dalam organisasi, yang bertujuan menerapkan ilmu pengetahuan semacam ini guna meningkatkan keefektifan suatu organisasi (Hanggraeni, 2011).
3. Perilaku Organisasi adalah bidang ilmu yang menyelidiki dampak dari pengaruh individu, kelompok dan struktur dalam organisasi terhadap perilaku orang-orang yang terlibat didalamnya bertujuan untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam meningkatkan efektivitas organisasi (Robins, 2008).
          Dari pengertian tersebut diatas, perilaku organisasi dapat didefinisikan sebagai kajian ilmu tentang individu-individu untukmendapatkan informasi mengenai kebiasaan, tingkah laku, cara kerja dan berbagai dinamika dampak keterlibatan individu di dalam suatu organisasi. Perilaku organisasi menggunakan komunikasi individu dengan dirinya, individu dengan individu lain, individu dengan organisasi serta individu dengan lingkungan. 

B. Sikap Kerja yang Utama dalam Perilaku Organisasi 
          Perilaku organisasi berfokus pada perhatian tentang sejumlah sikap yang terkait pekerjaan yang terbatas. Ini menimbulkan evaluasi yang positif atau negatif yang para pekerja miliki mengenai aspek-aspek lingkungan kerja. Sikap-sikap tersebut yaitu:
1. Kepuasan Kerja (job satisfaction)
    Suatu perasaan positif tentang pekerjaan,yang dihasilkan dari evaluasi dari karakteristik-karakteristiknya.
2. Keterlibatan Kerja (Job Involvement)
    Tingkat dimana seseorang mengidentifikasi dengan sebuah pekerjaan, secara aktif berpartisipasi di dalamnya, dan mempertimbangkan kinerja penting bagi nilai diri.
3. Pemberdayaan Psikologi (Psychological Empowerment)
    Kepercayaan pekerja dalam tingkat dimana mereka mempengaruhi lingkungan kerjanya, kompetensinya, arti pekerjaan mereka dan otonomi yang mereka nilai. 
4. Komitmen Organisasi (Organizational Commitment)
5. Dukungan Organisasi yang dirasakan (Perceived Organizational Support)
    Tingkat dimana para pekerja mempercayai organisasi menilai kontribusinya dan peduli mengenai kesejahteraan mereka.
6. Keterlibatan Pekerja (Employee Engagament)
    Keterlibatan seorang individu, kepuasan dan antusiasme terhadap pekerjaan yang dilakukan.

C. Emosi Pekerja
     Jika Anda pernah memiliki pekerjaan di penjualan ritel atau penunggu meja di restoran  Anda mengetahui pentingnya menampilkan sikap ramah dan tersenyum. Meskipun ada hari-hari dimana Anda tidak merasa ceria, Anda tahu bahwa manjemen mengharapkan Anda tetap bersemangat menghadapi pelanggan, jadi, Anda memalsukannya. Ini menggambarkan bahwa pekerjaan juga membutuhkan emosi pekerja (emotional labor) suatu ekspresi pekerja atas emosi-emosi yang diharapkan organisasi selama transaksi-transaksi interpersonal saat bekerja, emosi pekerja tersebut relevan pada hampir semua pekerjaan. Setidak-tidaknya Anda mengharapkan Anda sopan dan tidak kasar saat berinteraksi dalam lingkungan kerja.Tantangan sebenarnya muncul saat pekerja harus menampilkan suatu emosi saat sebenarnya merasakan yang lain. Disparitas ini adalah disonansi emosi (emottional dissonance).
     Sedangkan dalam hal pekerjaan akan sangat membantu Anda, jika dapat memisahkan antara emosi yang dirasakan dan emosi yang ditampilkan. Emosi yang dirasakan (felt emotion) adalah emosi aktual individu. Sebaliknya, emosi yang ditampilkan (displayed emotion) adalah yang dituntut oleh organisasi untuk ditunjukkan oleh pekerja dan dianggap pantas untuk pekerjaan itu. 
     Seorang agen penjualan yang tidak belajar untuk tersenyum dan ramah umumnya tidak akan bertahan lama dalam pekerjaan itu. Cara kita mengalami emosi tidak selalu sama dengan cara kita menunjukkannya. Menampilkan emosi-emosi palsu dibutuhkan untuk meredam semuanya. Dalam perilaku organisasi ini disebut akting permukaan (surface acting) menyembunyikan perasaan di dalam dan menyembunyikan ekspresi emosional sebagai respon atas peraturan. Sedangkan, akting mendalam (deep acting) mencoba untuk memodifikasi perasaan di dalam diri yang sebenarnya berdasarkan aturan.