Dalam sekolah bisnis mayoritas lebih menekankan pada aspek-aspek teknis manajemen seperti ketrampilan dalam penguasaan ilmu-ilmu ekonomi, akuntansi, keuangan dan teknik-teknik kuantitatif.
Topik perilaku manusia dan ketrampilan bermasyarakat mendapatkan perhatian yang minoritas. Padahal pemahaman tentang perilaku manusia dalam peran manajerial seperti menentukan efektivitas seorang manajer, seperti pelajaran yang dibutuhkan mengenai ketrampilan bermasyarakat sangat diperlukan dalam mengelola suatu organisasi. Berikut ini saya akan memberikan sedikit deskripsi sederhana tentang bagaimana itu Perilaku Organisas.
A. Pengertian Perilaku Organisasi
Ada beberapa pengertian mengenai perilaku organisasi yang disampaikan oleh beberapa ahli, antara lain sebagai berikut:
1. Perilaku organisasi adalah studi yang menyangkut aspek-aspek tingkah laku dalam suatu organisasi atau suatu kelompok tertentu (Thoha 2011).
2. Perilaku Organisasi adalah sebuah bidang studi yang menyelidiki pengaruh yang dimiliki oleh individu, kelompok struktur terhadap perilaku dalam organisasi, yang bertujuan menerapkan ilmu pengetahuan semacam ini guna meningkatkan keefektifan suatu organisasi (Hanggraeni, 2011).
3. Perilaku Organisasi adalah bidang ilmu yang menyelidiki dampak dari pengaruh individu, kelompok dan struktur dalam organisasi terhadap perilaku orang-orang yang terlibat didalamnya bertujuan untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam meningkatkan efektivitas organisasi (Robins, 2008).
Dari pengertian tersebut diatas, perilaku organisasi dapat didefinisikan sebagai kajian ilmu tentang individu-individu untukmendapatkan informasi mengenai kebiasaan, tingkah laku, cara kerja dan berbagai dinamika dampak keterlibatan individu di dalam suatu organisasi. Perilaku organisasi menggunakan komunikasi individu dengan dirinya, individu dengan individu lain, individu dengan organisasi serta individu dengan lingkungan.
B. Sikap Kerja yang Utama dalam Perilaku Organisasi
Perilaku organisasi berfokus pada perhatian tentang sejumlah sikap yang terkait pekerjaan yang terbatas. Ini menimbulkan evaluasi yang positif atau negatif yang para pekerja miliki mengenai aspek-aspek lingkungan kerja. Sikap-sikap tersebut yaitu:
1. Kepuasan Kerja (job satisfaction)
Suatu perasaan positif tentang pekerjaan,yang dihasilkan dari evaluasi dari karakteristik-karakteristiknya.
2. Keterlibatan Kerja (Job Involvement)
Tingkat dimana seseorang mengidentifikasi dengan sebuah pekerjaan, secara aktif berpartisipasi di dalamnya, dan mempertimbangkan kinerja penting bagi nilai diri.
3. Pemberdayaan Psikologi (Psychological Empowerment)
Kepercayaan pekerja dalam tingkat dimana mereka mempengaruhi lingkungan kerjanya, kompetensinya, arti pekerjaan mereka dan otonomi yang mereka nilai.
4. Komitmen Organisasi (Organizational Commitment)
5. Dukungan Organisasi yang dirasakan (Perceived Organizational Support)
Tingkat dimana para pekerja mempercayai organisasi menilai kontribusinya dan peduli mengenai kesejahteraan mereka.
6. Keterlibatan Pekerja (Employee Engagament)
Keterlibatan seorang individu, kepuasan dan antusiasme terhadap pekerjaan yang dilakukan.
C. Emosi Pekerja
Jika Anda pernah memiliki pekerjaan di penjualan ritel atau penunggu meja di restoran Anda mengetahui pentingnya menampilkan sikap ramah dan tersenyum. Meskipun ada hari-hari dimana Anda tidak merasa ceria, Anda tahu bahwa manjemen mengharapkan Anda tetap bersemangat menghadapi pelanggan, jadi, Anda memalsukannya. Ini menggambarkan bahwa pekerjaan juga membutuhkan emosi pekerja (emotional labor) suatu ekspresi pekerja atas emosi-emosi yang diharapkan organisasi selama transaksi-transaksi interpersonal saat bekerja, emosi pekerja tersebut relevan pada hampir semua pekerjaan. Setidak-tidaknya Anda mengharapkan Anda sopan dan tidak kasar saat berinteraksi dalam lingkungan kerja.Tantangan sebenarnya muncul saat pekerja harus menampilkan suatu emosi saat sebenarnya merasakan yang lain. Disparitas ini adalah disonansi emosi (emottional dissonance).
Sedangkan dalam hal pekerjaan akan sangat membantu Anda, jika dapat memisahkan antara emosi yang dirasakan dan emosi yang ditampilkan. Emosi yang dirasakan (felt emotion) adalah emosi aktual individu. Sebaliknya, emosi yang ditampilkan (displayed emotion) adalah yang dituntut oleh organisasi untuk ditunjukkan oleh pekerja dan dianggap pantas untuk pekerjaan itu.
Seorang agen penjualan yang tidak belajar untuk tersenyum dan ramah umumnya tidak akan bertahan lama dalam pekerjaan itu. Cara kita mengalami emosi tidak selalu sama dengan cara kita menunjukkannya. Menampilkan emosi-emosi palsu dibutuhkan untuk meredam semuanya. Dalam perilaku organisasi ini disebut akting permukaan (surface acting) menyembunyikan perasaan di dalam dan menyembunyikan ekspresi emosional sebagai respon atas peraturan. Sedangkan, akting mendalam (deep acting) mencoba untuk memodifikasi perasaan di dalam diri yang sebenarnya berdasarkan aturan.